Minggu, 29 Juli 2018

Nabi Idris Hidup Kembali

Nabi Idris berjalan-jalan dengan sahabat barunya selama beberapa hari. Namun beliau merasa kawannya itu berbeda sifatnya dengan manusia kebanyakan. Nabi Idris bertanya penasaran, "Siapa kamu?" 

"Aku adalah Malaikat Maut," jawabnya. "Aku datang untuk menziarahimu."

Nabi Idris berkata, "Wahai Malaikat Maut, kabulkanlah satu permintaanku kepadamu. Cabutlah nyawaku, kemudian mohonkan kepada Allah agar menghidupkanku kembali. Agar aku dapat menyembah Allah setelah merasakan dahsyatnya sakratulmaut."

Malaikat Maut tidak segera memenuhi keinginan Nabi Idris karena yang berkuasa menghidupkan dan mematikan makhluk hanyalah Allah Swt. Tak berapa lama, Allah memerintahkan Malaikat Maut untuk mencabut nyawa Nabi Idris.

Tetapi Malaikat Maut tidak tahan melihat sahabat barunya menjalani proses sakratulmaut. Ia menangis dan memohon kepada Allah agar Nabi Idris dihidupkan kembali. Nabi Idris lalu dihidupkan kembali oleh Allah Swt.

Kisah Nabi dan Rasul : Nabi Idris Alaihis Salaam

Nabi Idris hidup seribu tahun setelah Nabi Adam, dan merupakan keturunan keenam dari manusia pertama tersebut. Lahir di Babylonia lalu hijrah ke Mesir, Nabi Idris menjadi manusia pilihan yang diangkat Allah ke langit. Beliau wafat saat berada di langit keempat, ketika berusia 82 tahun. 

Pada masa Nabi Idris, telah terdapat 72 bahasa manusia. Beliau adalah nabi pertama yang mengenal tulisan, berbagai bahasa, ilmu perhitungan, ilmu alam, astronomi, dan sebagainya.

Nama "Idris" mempunyai arti belajar karena Nabi Idris suka membaca dan mempelajari mushaf-mushaf Nabi Adam. Beliau dianugerahi kepandaian dan keahlian, antara lain dapat membuat peralatan yang berguna untuk mempermudah pekerjaan manusia,  seperti mengolah besi-besi menjadi berbagai peralatan.

Nabi Idris juga dikenal sangat pemaaf dan tidak sombong. Beliau mendapat gelar "Asadul Usud" yang berarti singa dari segala singa. Hal ini karena ia tidak pernah putus asa menjalankan tugasnya sebagai seorang Nabi. 

Kisah Nabi dan Rasul : Pembunuhan Pertama

Nabi Adam akan menikahkan dua putranya bernama Qabil dan Habil, dengan dua putrinya yang bernama Iklimah dan Labuda. Habil dipasangkan dengan Iklimah dan Qabil dengan Labuda. Qabil menolak. Dia lebih tertarik dengan Iklimah daripada Labuda. Maka Nabi Adam menyuruh mereka berdua berkurban.

Kurban Habil diterima Allah karena dia mengurbankan seekor domba yang besar dan bagus, sedang kurban Qabil ditolak Allah karena dia hanya mengurbankan domba peliharaannya yang kurus kering. Habil berhak memilih pasangannya, yakni menikahi Iklimah.

Namun, Qabil dendam kepada Habil. Ia berniat membunuh saudaranya sendiri. Habil mencoba mencegah Qabil. Pembunuhan terjadi saat Habil sedang tidur setelah menggembalakan kambing.

Qabil bingung bagaimana cara mengurus jenazah Habil. Ia lalu melihat dua ekor burung gagak yang sedang berkelahi. Satu ekor burung gagak mati, lalu gagak yang hidup melubangi tanah dan menguburkan yang mati itu. Qabil pun meniru apa yang dilakukan burung gagak. Ia menguburkan Habil di tanah.

Kisah Nabi Idris dan Malaikat Izroil

Nabi Idris berkata, "Bisakah engkau membawaku melihat surga dan neraka?"

"Wahai Nabi Allah, permintaanmu aneh" jawab Malaikat Izroil. "Ya Nabi Allah mengapa ingin melihat neraka? Bahkan para malaikat pun takut untuk melihatnya."

Nabi Idris pun menjelaskan alasannya, "Terus terang saya takut sekali kepada azab Allah itu. Tapi mudah-mudahan iman saya menjadi lebih tebal setelah melihatnya."

Saat sampai di dekat neraka, Nabi Idris langsung pingsan. Malaikat penjaga neraka merupakan sosok yang sangat menakutkan. Ia menyeret dan menyiksa manusia-manusia yang durhaka kepada Allah semasa hidupnya.

Nabi Idris lalu dibawa oleh Malaikat Izroil ke surga. Malaikat Izroil mengucapkan salam kepada malaikat penjaga pintu surga yaitu Malaikat Ridwan yang memiliki paras yang tampan, wajahnya selalu berseri-seri dan dihiasi dengan senyum yang ramah.

Nabi Idris nyaris pingsan saat melihat surga. Bukan karena takut, tapi karena terpesona dengan keindahan surga. "Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, ucap Nabi Idris berulang-ulang."

Minggu, 08 Juli 2018

Nabi Adam AS Sebagai Khalifah di Bumi

Allah menunjuk Nabi Adam sebagai Khalifah atau pemimpin di bumi. Awalnya, para malaikat tidak mengakuinya. Mereka menganggap Nabi Adam tidak pantas menjadi seorang pemimpin. Hal ini karena rasa khawatir mereka manusia akan membuat kerusakan di muka bumi. 

Untuk meyakinkan para malaikat, Allah memerintahkan Nabi Adam menyebutkan nama benda-benda di bumi di depan para malaikat. Allah menyuruh para malaikat menyebutkan nama benda-benda itu. Satu pun dari malaikat itu tidak bisa menjawab tantangan Allah SWT.

Mereka berkata "Maha agung Engkau! Sesungguhnya kami tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu, kecuali apa yang Tuhan ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui dan Maha Bjaksana." 

Nabi Adam segera menyebutkan nama benda-benda itu. Jelas, sebagai manusia pertama dan manusia pilihan, beliau telah dibekali Allah pengetahuan untuk memakmurkan bumi. Para malaikat pun tunduk dan taat kepada perintah Allah, kecuali golongan iblis yang tetap membangkang dan tidak suka Nabi Adam diangkat sebagai Khalifah di bumi.

Nabi Adam AS, Manusia Pertama

KISAH-KISAH ISLAMI PARA ROSUL DAN NABI

Teman-teman, rubrik ini mengisahkan 25 Nabi dan Rasul yang diceritakan di dalam Al-Qur'an. Sebenarnya jumlahnya banyak, namun yang diceritakan dalam Al-Qur'an hanya 25 orang, ditambah seorang yang Qur'an tidak menyebut namanya (mufassir sepakat itu nabi Khidir AS yang kisahnya bersama Nabi Musa AS di S. Al-Kahfi). 

Perbedaan nabi dan rosul adalah, nabi menerima wahyu untuk diri sendiri, rosul menerima wahyu untuk disebarkan kepada umatnya.

NABI ADAM AS, MANUSIA PERTAMA

Nabi Adam AS (Alaihis Salaam) ialah manusia pertama yang diciptakan Allah SWT. Nabi Adam diciptakan setelah Allah menciptakan bumi, gunung, laut, tumbuhan, langit, matahari, bulan, bintang-bintang serta para malaikat dan iblis. 

Allah menyuruh para malaikat dan iblis bersujud atau menghormati Nabi Adam. Para malaikat taat kepada perintah Allah, namun Iblis tidak menuruti perintah ALLAH.

"Apakah yang mencegahmu sujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku?" tanya Allah kepada Iblis. 

"Aku lebih mulia dan lebih unggul dari dia. Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakan Adam dari tanah," jawab iblis. 

Allah lalu mengusir iblis dari surga dan mengeluarkan iblis dari golongan malaikat. Hingga nanti hari kiamat iblis menjadi mahluk yang senantiasa membangkang. Iblis menerima hukuman dari Allah. Iblis mengancam akan selalu menggoda Adam dan keturunannya agar berbuat maksiat, tidak berbuat baik dan tidak bersyukur.

Rabu, 04 Juli 2018

Khotbah Idul Fitri Abu Bakar 2018


NIKMAT DAN KARUNIA DARI ALLAH SWT KEPADA KITA, TERNYATA TAK TERBILANG BANYAKNYA

Begitulah intisari khutbah Idul Fitri yang disampaikan oleh Ustadz Drs. Med. H. Abu Bakar, MBA., Sekretaris MUI (Majelis Ulama Indonesia) Semarang Utara, bertempat di Masjid Assalam Jalan Erowati Kokrosono Semarang Utara, Jumat pagi (15/6/2018). Nikmat dan karunia itu antara lain, demikian Pak Abi (panggilan akrab Pak Bakar) merincikan: 

Nikmat karunia kesehatan yang tiada ternilai harganya bagi kita, yang kadang-kadang kita melupakannya, barulah kalau kita sakit ringan sedikit seperti batuk, pilek, influenza yang berakibat terganggunya aktivitas kita, barulah kita menyadari betapa tinggi, betapa besar nilai karunia kesehatan bagi kita. 


Karunia ketentraman rumah tangga kita, karunia keamanan lingkungan kita, karunia ketertiban kota kita, karunia kita dijauhkan dari musibah dan bencana, yang akhir-akhir ini terdengar bersahut-sahutan di berbagai belahan bumi kita. Ada gempa bumi, ada tanah longsor, ada banjir, ada suhu yang amat sangat menyengat, dan sebagainya. 

Alhamdulillah kita di Semarang ini dijauhkan dari berbagai bencana tersebut. Memang kalau kita mau menghitung nikmat dan karunia dari Allah SWT kepada kita ternyata tiada terbilang banyaknya. 


Wa in ta'udduu ni'matalloohi laa tuhsuuhaa (QS 16/An-Nahl ayat 18).


Pak Bakar juga menjelaskan filosofi Jawa tentang Idul Fitri, yang berarti pula Lebaran, Leburan, Luberan dan Laburan, yang dikenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah seorang dari Walisongo, penyebar Agama Islam di tanah Jawa. 

Jamaah sholat Idul Fitri yang datang dari kelurahan Bulu Lor dan Pendrikan ini tampak tidak tertampung di masjid, hingga meluber ke halaman masjid, ujung Jalan Erowati dan Jalan Noyorono.