Senin, 08 Mei 2017

Sekilas Cara Memasarkan BAKERY & SNACK CATERING

roti semarang keshi

Bismillaahirrohmaanirrohiim.
Robbii zidnii 'ilman, Warzuqnii fahman
Ya Allah ya Robbii, Tambahkan ilmu padaku dan karuniakan kepahaman bagiku

PRICE

Kali ini kita memakai policy price yang kita perhitungkan (calculated).

Bahan baku (gula pasir, mentega, telur, terigu, gas, pack/bungkus dan lainnya Rp 1.200 (60℅) dijual Rp 2.000 (100℅)

Dalam tiga hari pertama kita telah memproduksi dan memasarkan 3 x 120 roti = 360 roti. Kalau kita ajeg/continue seperti itu maka dalam sebulan akan ada :

Rencana Pemasukan 3.600 x  Rp 2.000 = Rp 7,2 juta

Berarti ada alokasi dana untuk :
  • Cost of production 10℅ = Rp 720.000
  • Cost of marketing 10℅ = Rp 720.000
  • Toleransi retur 10℅ = Rp 720.000
  • Profit 10℅ = Rp 720.000
"Wah kalau profit/laba sekian saya kurang, Pak," kata teman saya. "Saya ingin dapat tambahan paling tidak Rp 2 juta/bulan," tambahnya. Silakan, Anda tinggal produksi 3 x 120 roti/hari (9 kg terigu/hari) maka Anda akan dapat profit Rp 2.160.000/bulan.

Anda pun mendapat alokasi dana untuk ongkos produksi dan ongkos pasaran lebih besar. Laba pun akan meningkat bila toleransi retur 10℅ tidak tercapai.

POTENSI PASAR

Potensi pasar di kota Semarang, Demak, Kendal dan sekitarnya bukan main. Kota Semarang saja dengan 16 Kecamatan, kalau kita bentuk rata-rata 20 outlets per kecamatan, diperlukan 320 outlets (di kecamatan lama lebih dari 20, kecamatan perluasan sedikit di bawah 20).

"Lho Pak, sehari mengunjungi 24 outlets apa cukup waktu? Kalau satu outlets butuh waktu 1/2 jam = 12 jam, padahal kerja 8 jam/hari." Makanya kita pakai sistem dan buat program.

Misalnya hari Senin kunjungan ke Sampangan, maka program route-nya (dari kantor di Tanah Mas): Tanggul Mas, Kokrosono, Erowati, Basudewo, Kelud, Lamongan, Menoreh, Kradenan)
8 daerah @ rata-rata 3 outlets (potensinya lebih dari itu).

Hari Selasa program kunjungan ke Delta Mas, Boom Lama, Bandarharjo, Tawang, Layur, Kuningan, Petek, Tambra. Artinya tidak ke tempat- kemarin, tetapi ke timur.

Begitu pula hari ke-3, Rabu, canvaser ke Krapyak melewati Kuala Mas, Ariloka. Karang Ayu, Manyaran, Krapyak, Pamularsih, Puspanjolo, Sadewo. Jadi :
  • Hari I ke Selatan
  • Hari ke-2 ke Timur 
  • Hari ke-3 ke Barat
  • Hari ke-4 = Hari I
Dengan disusun program semacam ini, amat efektif dan yang jauh akan terasa dekat. Sampangan yang dari Tanah Mas semula jauh, terasa dekat karena kita sudah menyusuri Kokrosono, Kelud. Begitu sampai Kelud, Sampangan terasa dekat.

Ada teman yang nyeletuk, "Pak, ketoke kok enak kepenak, wong sing do usaha kae kok do rugi terus njur tutup,"

Ya saya katakan, "Every beginning is difficult, setiap permulaan itu sulit." Kesulitan itu ada, yang penting kita bisa mengatasi kesulitan itu, kita bisa merumuskan solusi/solving the problem. Sudah barang tentu dibarengi dengan DUIT. Bukan duit uang, tapi Doa, Usaha, Iman dan Tawakal.

Sedang duit uang akan datang dengan sendirinya, termasuk permodalan. Biasanya setelah berjalan 1-2 bulan akan datang para pemasok bahan baku, menawarkan kepada kita bahan-bahan baku seperti mentega, keju, coklat dan lainnya dengan sistem pembayaran tunda. Itu sama saja kita diberi modal.

Foto : Roti Keshi

Sabtu, 06 Mei 2017

PENERAPAN STRATEGI PEMASARAN DI USAHA BAKERY & SNACK



1. PRODUCT
  • Pilih nama brand yang baik.
  • Desain kemasan yang baik
  • Karena produk makanan, taste/rasa dipertaruhkan, perlu evaluasi secara rutin.
  • Tentukan main product/produk utama, biasanya roti pisang. Oleh karena itu, dari 120 roti yang kita produksi, 60 roti pisang dan 30 roti coklat dan 30 keju. Begitu pula pengisian di outlet.
2. PRICE

Bingung ya hitung-hitungannya?
Begini, kita produksi tiap hari 360 roti dengan terigu 9 kg dan bahan-bahan lain menyesuaikan.
Dalam sebulan berarti kita produksi 30 x 360 roti = 10.800 roti
10.800 x Rp.2.000 = Rp. 21,6 juta

Profit Anda 10% = Rp. 2.160.000
Dari 10.800 roti dalam sebulan itu kita prediksi retur dari outlet 10% (1.080 roti).

Kalau outlet kita baik, retur di bawah 10%.
Misal returnya hanya 580 roti, maka kita dapat tambahan profit 500 x Rp. 2.000 = Rp. 1 juta
Profit kita menjadi Rp. 3.160.000,-

3. PLACE

Place tidak lain adalah channel of distribution, saluran distribusi. Tiga hari pertama kita produksi 360 roti dan kita tempatkan di 18 sampai 36 outlets (toko, warung, depot, cafe dll) masing-masing 10 sampai 20 roti.

Hari ke empat kita mengulang mendatangi outlets yang hari pertama kita datangi, menerima pembayaran yang laku, menerima retur roti yang tidak laku. Yang habis atau retur sedikit, maka jumlah roti yang dititipkan bisa dinaikkan.

Sambil repeat order yang lama, juga membuka outlets baru. Dengan demikian, pada hari ke empat ini kita tidak cukup kalau produksi 120 roti. Kita produksi 2 x 3 kg = 6 kg = 240 roti (Apalagi kita mau menuju ke profit sekitar Rp. 2 juta/bulan).

Place tidak lain agar produk kita yang sudah kita siapkan dengan baik dari bahan bakunya, rasanya, packingnya, dengan mudah bisa dibeli oleh masyarakat di outlets yang dekat dari rumahnya. Apalagi kalau kita topang pula dengan program-program promosi.

4. PROMOSI

Bauran promosi atau Promotion Mix yang empat itu (sudah tahu semua to, tidak perlu dihafal, tapi tahu dan mengerti) kita terapkan tahap demi tahap. Maksudnya kita belum perlu pasang iklan koran apalagi TV, karena apa? Karena pasar yang kita buka, yaitu outlets yang kita bentuk/isi mungkin baru dua kelurahan. Satu kecamatan saja belum ada. Padahal media koran itu coverage atau daya liputnya satu kota, bahkan satu provinsi. Apalagi TV.

Kita memang punya alokasi dana atau cost of marketing Rp 2.160.000, kita pakai saja untuk gaji canvaser (yang mengisi outlets) sesuai UMR. Dengan penyebaran produk kita di berbagai outlet yang baik, akan membantu/mengandung unsur promosi. Orang-orang yang semula unaware menjadi aware, bahkan lebih dari itu, memiliki brand knowledge, liking, preference bahkan sudah langsung purchase brand (membeli roti kita). Packing yang baik, cetho/jelas tulisan nama merknya juga membantu dan mengandung promosi untuk produk kita.

Saya tekankan lagi, "Apabila produk kita baru tersedia di sebagian kecil dari suatu daerah (baru 1-2 kecamatan), maka kita belum bisa promosi melalui media yang coverage-nya luas." Paling tepat ya sponsor event di kecamatan/kelurahan atau paling selebaran.

Kegiatan spreading dan selling in produk ke outlet setiap hari, packing yang bagus desainnya dan jelas tulisan nama brand-nya akan punya nilai promosi. Kalau perlu, "personal selling" di beberapa kantor, tapi perlu diingat dana kita masih terbatas (Rp.2.160.000/bulan termasuk gaji canvaser-nya). Jadi cukup buat selebaran saja dan sisa dana promosi kita tabung untuk kita pergunakan saat spreading produk kita cukup luas.

Sekarang coba kita hitung berapa jumlah outlets kita dengan produksj 360 roti/hari untuk mendapat nett profit Rp 2 sampai 3 juta/bulan.
  • 360 roti/hari kita isikan ke 24 outlets.
  • Rata-rata per outlets 15 roti, artinya tiap outlet ada yang diisi 10, ada yang 15, ada yang 20 roti.
  • Dalam 3 hari kita membuka/membentuk 3 x 24 = 72 outlets, hari ke-4 kita repeat order ke 24 outlets yang kita bentuk pada hari pertama. 
  • Jadi kalau produksi kita 360 roti/hari, outlets kita pada bulan I = 72. Ya kalau kita "extend" sedikit bisa 80 outlets. Artinya yang diisi 15 dan 20 dikurangi, lebih banyak yang diisi 10 roti.
  • Kalau kita belum akan memperbesar usaha kita, dengan produksi 360 roti/hari kita mempekerjakan 2 orang karyawan. Seorang di bagian produksi, seorang di bagian pemasaran dan profit Rp 2 juta.
  • Kalau kita ingin meningkatkan profit menjadi Rp 4 juta/bulan, kita ikuti skema tadi: Produksi 720/hari, kita gunakan 4 orang karyawan (2 produksi, 2 marketing) alat-alatpun ditingkatkan, Oven pun pakai yang agak besar, yang sekali masuk 6 loyang.

SEKILAS CARA PRODUKSI DAN MEMASARKAN ROTI


SEKILAS CARA PRODUKSI

1 kg terigu protein tinggi + 150 gr mentega + 4 butir telur + 250 gr gula pasir + ragi pengembang, tanpa pengawet dimix jadi satu. Fungsi mixer melumatkan bahan tersebut. Didiamkan beberapa menit agar mengembang, kemudian dibagi menjadi 40 bagian dengan mesin divider atau dengan ditimbang. (1 kg terigu akan menjadi 40 buah roti).

Setelah itu diberi isi (coklat, keju, mocca, pisang dll) letakkan dalam loyang (9-10 roti tiap loyang). Tunggu beberapa menit, siap masuk oven yang sudah dipanaskan. Tiap satu oven "Johar/merk Bima Bandung bisa masuk 2 loyang, 2 oven = 4 loyang.

Keluar dari oven diamkan agar tidak panas untuk dikemas/packing. Secara detail Anda bisa datang ke tempat kami 1-2 hari untuk belajar, gurunya istri saya. Monggo.

Untuk roti yang dioven/panggang, kami menggunakan terigu protein tinggi (Cakra dari Bogasari), terigu protein sedang untuk membuat bolu, protein rendah untuk kue-kue lainnya.

SEKILAS CARA MEMASARKANNYA

  1. Cari nama brand yang bagus, buat desain logo, buat plastik bungkus dengan sablon logo brand kita.
  2. Kalau hari pertama kita produksi 3 kg terigu (bahan-bahan lain menyesuaikan), ada 120 roti yang kita pasarkan hari itu.
  3. Kita titipkan ke 6-12 outlet (warung, depot, cafe dll masing-masing 10-20 roti), Cash atau titip. Ada baiknya tahap pertama 12 outlet @ 10 roti agar spreading/penyebaran meluas.
  4. Hari kedua kita produksi 3 kg = 120 roti lagi, kita masukkan ke outlet yang lain (kecuali outlet yang kita isi kemarin ada yang sudah habis). Begitu pula esok harinya. Baru hari keempat kita ulangi mengisi ke outlet yang kita isi di hari pertama, karena meski tanpa pengawet roti tahan 3-4 hari. Kalau ada roti yang tahan lebih dari itu bahkan sampai 1-2 minggu, berarti menggunakan pengawet makanan.

PELUANG BISNIS 2017 dan BAGAIMANA CARA MEMULAINYA


Bismillaahirrohmaanirrohiim.
Robbii zidnii 'ilman, Warzuqnii fahman
Ya Allah ya Robbii, tambahkan ilmu padaku dan karuniakan kepahaman bagiku.
  1. Bakery Roti & Snack Catering.
  2. Bimbel/Bimbingan Belajar dan Les Privat
  3. Biro Iklan/Kolportir
  4. Ekspedisi/Kiriman
  5. Seluler shop

Teman-teman dapat menambahkan bidang-bidang yang lain. Semuanya setingkat UMKM yang bisa Anda tempatkan di carport/garasi rumah yang tak terpakai. Namun besar kecilnya omset penjualan tergantung bagaimana kita menerapkan Strategi Pemasarannya yang kita pelajari di KUL-WA kemarin.

PENDAHULUAN

Mendirikan suatu usaha/bisnis mulainya bisa berbeda beda. Ada seorang yang punya segepok uang (M sampai T) ingin mendirikan usaha. Ya tinggal buat proposal perencanaan pendirian usaha itu. Yang kita bicarakan di sini bukan itu. Tapi ada seorang datang kepada saya, dia berkata "Pak, saya punya garasi mobil di rumah saya yang tidak terpakai, mobil saya letakkan di depan rumah seperti tetangga saya lainnya. Saya ingin punya usaha untuk menambah penghasilan saya."

Awal ceritanya begitu, saya pun melanjutkan pembicaraan seperti seorang dokter mengadakan "anamnesa" (cerita tentang riwayat penyakit). "Di rumah ada dapur ya," tanya saya. "Ada," jawab temanku itu. "Ruang makan atau meja makan mesti ada to," tambah saya datar. "Ya aada," jawab sobat saya ini sambil tersenyum.

Itulah dialog awal yang menunjukkan dari arah mana start/mulainya suatu usaha. Kemudian saya sodorkan lima pilihan bidang yang sudah saya susun menurut abjad:
  1. Bakery
  2. Bimbel
  3. Biro Iklan
  4. Ekspedisi
  5. Seluler shop
Sebenarnya tidak hanya lima bidang ini saja, teman-teman saya persilahkan menambah bidang-bidang lain, agar kaya bahasan dan tambahan ilmu kita. Singkatnya, teman saya tadi memilih yang nomor satu, BAKERY. Ini pas karena disamping garasi ada dapur dan ruang makan. Empat bidang lainnya cukup hanya garasi mobil saja.

BAKERY & SNACK CATERING

Bakery di sini kita artikan sebagai pembuatan roti melalui proses pemanggangan dengan alat oven, ada yang listrik, ada yang gas LPG untuk proses pemanggangannya.

INVESTASI/ALAT-ALATNYA

Karena dimulai dari skala kecil, maka investasinyapun kecil. Setelah pasar berkembang, investasi bisa ditambah dan dikembangkan.

  1. Oven 2 buah @ Rp.125.000 = Rp 250.000
  2. Loyang 10 buah @ Rp.10.000 = Rp 100.000
  3. Mixer Rp 3 juta (kapasitas 3 kg terigu)
  4. Rp 600.000 (kapasitas 1/4 kg terigu)
  5. Gas LPG + tabung Rp 100.000
  6. Kompor gas 1 pit Rp 100.000
  7. Bahan baku, terigu, gula pasir, telor mentega dll Rp. 200.000
Jumlah Rp.750.000, ditambah mixer Rp 600 ribu atau Rp.3 juta.